Sunday, December 29, 2019

CREATIVE CITY (Kota Kreatif)

The "CREATIVE CITY" is a concept developed by Australian David Yencken in 1988 and has since become a global movement reflecting a new planning paradigm for cities. It was first described in his article 'The Creative City' (Wikipedia).

KOTA KREATIF (Creative City) sebagai Ide, Gerakan perlu didukung. Bayangkan, belasan kota-kota kita Kota Besar dan Metro nyaris sama nuansanya, termasuk billboard iklannya.

Kota-kota umumnya memamerkan Shopping Centers yg nyaris sama bentuknya. Susunan pertokoannya jg nyaris seragam. Counters, kafe2  resto2, juga nyaris sama. Bahkan di P Bali sekalipun. Kekhasan lokal sangat kecil, dan kl ada dipinggir.

Padahal kita pd kesempatan lain, bangga dgn kekayaan budaya, aneka gaya bangunan, pola corak tenun, busana, kuliner. 

Beberapa kota yg terasa beda, punya budaya, kekhasan, misalnya (yg lama): Solo, Yogya. 
Yg berhasil diangkat oleh pemda dan warganya: Ambon,  Bandung, Banyuwangi, Pekalongan, Sawahlunto, Tomohon. Upaya2 yg layak dihargai. 

Bukan saja unt mengundang wisatawan. Tapi jg mengangkat desain, tradisi, produk2 budaya khas setempat. Ekonomi kreatif setempat jd hidup kembali.

Untuk bagian wilayah kota ada: Kotagede Yogya, Kota Tua Jakarta, Kota Lama Semarang, dst. Yg mengangkat pusaka/heritage gedung2 dan sites-nya sbg latar untuk menampilkan kreasi desain, seni, dan khas budaya setempat.

Dengan kata lain KOTA KREATIF (CREATIVE CITY) ialah Kota (permukiman) dgn Ekonomi Kreatif (14 jenis Ekraf) sbg penggeraknya.

Beberapa Kota tampak nyata hidup, tumbuh krn kegiatan Ekraf sebagai penggeraknya, seperti Pekalongan yg tumbuh krn industri Batik. Banyak permukiman tumbuh berkembang krn keg ekonomi Kuliner nya, baik krn pembuatan makanan, atau dgn warung, resto yg berpusat disitu.
Lbh mikro lagi, pertokoan, mall, ditentukan oleh area "kuliner" dan "fashion/pakaian"nya (keduanya Ekraf).

Dengan kata lain  sebagian pertumbuhan kota pd masa kini, banyak oleh kegiatan  EKRAF, terutama kuliner dan pakaian. (Risfan Munir)

Friday, December 27, 2019

CREATIVE CITY (Kota Kreatif)

CREATIVE CITY. UNESCO (2004) menetapkan 7 kategori dlm UCCN (UNESCO Creative City Network):
1. City of Literature (Sastra), 
2. City of Film, 
3. City of Music, 
4. City of Craft n Folk Art, 
5. City of Design, 
6. City of Media Arts, 
7. City of Gastronomy.
Kota2 kita yg sudah diakui UNESCO al: Pekalongan (Coty of  Craft n Folk Art), dan Bandung (City of Design) Ambon (City of Music).

Sebagai perbandingan Creative Economy (Ekonomi Kreatif) mencakup:
1. Advertising
2. Architecture
3. Arts
4. Craft
5. Design
6. Fashion
7. Film
8. Music
9. Performing Arts
10. Publishing
11. R n D
12. Software
13. Toys n Games
14. TV n Radio
15. Computer Games.

UU Pemajuan Kebudayaan jg mengamanatkan agar dan rah2/kota2 mengangkat Pokok2 Unggulan Kebudayaan Daerah nya. Termasuk desain ornamen khas,  arsitektur bangunan, tata letak khas daerah (heritages), dan lainnya (Risfan Munir)


Wednesday, July 10, 2019

Konsep Pengembangan Habitat (Wilayah, Kota, Desa, Permukiman) #2


6- Dukuh (hamlet) berkembang, ada dukuh-dukuh lain di dekatnya, maka terbentuk Desa. Pada tingkat Desa ini, sebagai unit permukiman mulai tampak adanya organisasi. Sekelompok manusia pekerjaannya bertani, berkebun, nelayan, dpl membentuk Unit Ekonomi. Mulai ada Uni dan Tata Pemerintahan. Diantara penduduk sendiri mulai berkelompok, berinteraksi, membentuk Unit Sosial. Sehingga Sistem Desa mulai tumbuh dengan Unit-unit Ekonomi (pekerjaan), Sosial, Pemerintahan (tata kelola), yang tumbuh-berkembang, diatas/ditopang oleh Sistem Alam (Ecosystem) nya.

7- Kebutuhan faali PANGAN (mata pencarian, ekonomi), dan PAPAN (tempat berteduh, hunian, rumah), merupakan kebutuhan paling dasar. Yang menjadi MOTIVASI manusia/penduduk memilih lokasi menetap (bertempat-tinggal).

8- Manusia bertempat-tinggal mengelilingi mata-air di padang pasir membentuk Oase. Mereka juga berAGLOMERASI di muara sungai, di dataran yang subur. Pilihan lokasi pada mulanya atas pertimbangan sumber PANGAN, serta keamanan dan kenyamanan timpat tinggal, atau PAPAN.

9- Pada tahap berikutnya, kegiatan produksi/Ekonomi bukan saja di bidang ekstraksi Sumber Daya Alam (SDA) seperti tani, ternak, perikanan, tetapi kegiatan Pengolahan, baik pengolahan hasil bumi, maupun kebutuhan lain (kerajinan, peralatan), juga Jual-Beli (perdagangan, warung), serta Jasa (tabib, bidan, tempat hiburan). Bidang-bidang non-SDA ini memungkinkan penduduk tidak harus tinggal di lokasi bertani, tetapi di tepi jalan, persimpangan, yang sering dilewati orang.

10- Dalam bukunya, "Regional Planning and Development", Arthur Glikson mengutipn Benton MacKaye, yang menyatakan: "the Objective of Regional Planning as "the cultivation of HABITABILITY of the region of human settlement."

11- “A closer observation of the term "HABITABLE" will reveal to us the essential difference between the utilitarian kind of planning and Planning for Habitability. One can define as "HABITABLE" any natural or artificial space which provides man with suitable external conditions for his continued existence, i.e., food, shelter, health, climate, different facilities etc.”

12- “HABITABILITY may be the result of natural factors as land - fertility, climate, topography; it may also be an outcome of purposeful human actions, as building  e.g. a well functioning city, lines of communication, installations, etc, in a coordinated way. What is considered at any time as being "HABITABLE", depends on the demands put forward by man acording to the rulling ideas of his civilization.” (Glikson, p.8)

13- Dari uraian tersebut, secara generik dapatlah konsep ini disebut sebagai KONSEP PENGEMBANGAN HABITAT (Wilayah, Kota, Desa, Permukiman). #Risfan_Munir


Tuesday, July 9, 2019

KONSEP PENGEMBANGAN Habitat (Wilayah, Kota, Desa, Permukiman)


1- Pengembangan Habitat (Wilayah, Kota, Desa, Permukiman) dapat dianalogikan dengan Berkebun. Proses menanam benih, memberi pupuk, merawat ekosistem sehingga hidup, dan berkembang menjadi kebun.

2- Analog dengan Kebun. Ada unsur Lahan, Tanaman, Manusia, dan fungsi Ekonomi (sayur, bunga, buah), serta Ekosistem lingkungannya. Suatu Permukiman (desa, kota, wilayah) juga terdisi dari unsur Lahan (Place), People (Penduduk n Sistem Sosialnya), fungsi Ekonomi (produksi, jasa), serta Ekosistem (lingkungan, kelembagaannya).

3- Dalam literatur awal. Artur Glikson mengutip Patric Geddes, yang merumuskan tiga unsur permukiman: FOLK, PLACE, WORK (Penduduk, Lokasi, Ekonomi) sebagi unsur dasar untuk memahami Permukiman (dukuh, desa, kota, wilayah). Inteaksi antar ketiga unsur tersebut menjadi Matrix untuk menganalisis "tumbuh n kembang"nya suatu permukiman.

Lihat Diagram di bawah (matrix 3x3, dan Stadia Tumbuh-Kembang nya).




4- Selanjutnya, Doxiadis menggambarkan "Stadia Tumbuh-Kembang"-nya Permikiman tersebut dalam Klasifikasi Ekistik, sebagaimana Gambar berikut.


(Stadia Ekistik)

5- Pada suatu lokasi yang potensial dan layak huni (lembah subur, pertemuan sungai, muara, atau persilangan jalan), sekelompok orang tinggal di lokasi itu. Mereka memanfaatkan potensi SDA, dan keuntungan letak geografisnya. Satu keluarga, diikuti keluarga lainnya, untuk memanfaatkan lokasi yang sama. Mereka ber-AGLOMERASI, sehingga terbentuk Dukuh.

Wednesday, March 20, 2019

MIGRASI KE KOTA

MIGRASI KE KOTA. Stlh negara kita merdeka, hingga awal 60an dst, terjadi lonjakan migrasi ke kota-kota besar. Jumlah penduduk kota jauh melampaui daya tampung kota-kota yg direncana unt kalangan terbatas.
Sementara pemerintah blm sempat merencana, menata, n membangun sarpras permukiman. Baru mid 60an upaya perencanaan/penataan dimulai. Itupun skalanya terbatas. Dan, hingga saat ini blm bisa mengejar kebutuhan secara memadai, baik perumahan, sanitasi, kesempatan kerja. Sementara migrasi ke banyak kota besar trs terjadi. Budget tdk bisa lagi semata dari pemerintah (nas, daerah). Maka a.l. didorong partisipasi masy, dan swasta dlm pembangunan perumahan n sarana permukiman kota/daerah. (Risfan Munir)

TUMBUH-KEMBANGNYA PERMUKIMAN

Development:
TUMBUH-KEMBANGNYA PERMUKIMAN

Di persimpangan sungai. Lahan subur, terlindung dr arus dan bahaya. Tumbuh tinggal manusia membentuk satuan kecil permukiman.

Makin banyak yg tinggal. Daya dukung cukup. Jadilah sebuah Desa.

Beberapa desa sejenis, berkembang. Membentuk Satuan Kawasan Permukiman/Perdesaan.

Salah satu dari Desa, kian tumbuh, lewat seleksi alam. Menjadi Kota Kecil.

Diantara beberapa kota kecil, tumbuh-berkembang terus, karena keuntungan lokasi (persilangan jalur regional, delta sungai, pelabuhan alam) - menjadi Kota Sedang, lalu Kota Besar.

Kota-kora tersebut tumbuh-berkembang, selain krn faktor Alam, juga krn pertumbuhan Kegiatan Ekonomi (industri, jasa), fungsi nya sbg Pusat Pelayanan bagi Wilayah hinterland/belakangnya.

PENGEMBANGAN WILAYAH DI ERA DIGITAL

Development:
PENGEMBANGAN WILAYAH DI ERA DIGITAL

Apa manfaat internet bg Pengembangan Wilayah? Setidaknya ada bbrp yg mulai tampak:
1) E-commerce telah memudahkan promo dan penjualan produk2 lokal. Dari produk UMKM, usaha rumahan, pertanian s/d promosi (pariwisata) daerah. Ini jelas terasa bagi produsen kecil dari desa2 jauh dari kota besar;
2) Fintech. Tlh mulai menjadi sumber dana unt modal usaha, cash-flow, bagi UMKM, usaha tani, ternak, bahkan jd sumber dana pembangunan sarana (bridging finance) juga. 
3) Akses Informasi. Selain bisa promo. Masy desa/drh jg lbh bisa mengakses info pasar, harga2, tren perkembangan di luar wilayahnya, termasuk perbandingan dgn daerah lainnya (yg lbh maju); dan manfaat digital lainnya.
Peluang2 apalagi yg bisa dieksplor? Jg manfaat digital dalam proses perencanaan: data management, dan perpetaan? (Risfan Munir)

PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL (PDT)

Bagi Young Planner yg minatnya Regional (Dev) Planning. PDT juga merupakan bidang karya/karier yg perlu jd alternatif. 

Isunya: bagaimana mengembangkan wilayah/daerah yg masih tergolong tertinggal agar dpt menjadi daerah yg maju dan mandiri secara berkelanjutan. 

Secara tidak langsung ini merupakan upaya pemerataan, dan mengurangi beban perkotaan.

 (Risfan Munir) 

Karier dalam HOUSING n URBAN DEVELOPMENT

Dari sebaran Alumni dan ilmunya yg dipelajari saat kuliah --> HOUSING & URBAN Development (perumahan & permukiman) layak ditekuni sbg alternatif area berkarya Young Planner. (Risfan Munir)

Tuesday, March 19, 2019

PERENCANAAN PEMBANGUNAN PERUMAHAN

PERENCANAAN PEMBANGUNAN PERUMAHAN, jg alternatif berkarya.
Banyak daerah yg punya dinas Perumahan (dan Permukiman). Perumnas, developer. 
Isunya: bgmn menutup gap kebutuhan rumah (semua lapisan masy), penataan permukiman, sarpras dan utilitasnya. Termasuk perbaikan kampung. Ada juga program KotaKu (kota tanpa kumuh) yg diterapkan di mayoritas kota. Tentu ini peluang karya yg juga perlu dijajal. (Risfan Munir)

PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL (PDT)

Bagi Young Planner yg minatnya Regional (Dev) Planning. PDT juga merupakan bidang karya/karier yg perlu jd alternatif. 

Isunya: bagaimana mengembangkan wilayah/daerah yg masih tergolong tertinggal agar dpt menjadi daerah yg maju dan mandiri secara berkelanjutan. 
Secara tidak langsung ini merupakan upaya pemerataan, dan mengurangi beban perkotaan.

 (Risfan Munir)

DEVELOPMENT

Kadang diterjemahkan sbg Pengembangan, kadang Pembangunan. 
Tapi yg jelas tdk sesempit Konstruksi (pembangunan gedung/fisik).
Development spt pd UNDP. Atau Pembangunan Kota/Daerah spt pd RPJPD, RPJMN, Bappenas/da, Bangda ... tentu artinya luas, komprehensif. 
Menyangkut pembangunan ekonomi, aspek fisik, lingkungan hidup, pelayanan dasar. 
Begitu pula Urban development, Regional development, Rural development.
  (Risfan Munir)

DEVELOPMENT dan SPATIAL PLANNER

Dari pengamatan ttg sebaran perencana wilayah/kota. Saya lihat setidaknya ada dua aglomerasi minat/kerja: (1) perencana tata ruang (Spatial Planner); (2) perencana pembangunan wil/kota (U/R Development Planner);
(3) mixed keduanya.

STATIAL Planner, fokus pada RTRW dan turunannya (RDTR, PZ) dan yg terkait.

Reg/Urban DEVELOPMENT Planner, fokus pd pembangunan wil/kota, umumnya dg perangkat: Strategic Planning, PPBS (planning, programming, budgeting system). Produk resminya RPJMD, Renstra (Perumahan, Infrastruktur, Pariwisata, dst).

Ini bisa menjadi pertimbangan bagi young planner untuk mengembangkan kemungkinan2 berkarya di dunia PWK. (Risfan Munir)