Sunday, February 20, 2022

Systems THINKING: Investasi Infrastruktur, Pembangunan Ekonomi, dan Lapangan Kerja

Salah satu prinsip dari Systems Thinking ialah inter-connectedness, saling-terkait antar faktor. Strategi Pembangunan yang diterapkan melalui Investasi Pembangunan Infrastruktur, jika ini berjalan lancar, infrastruktur wilayah dan kota terbangun, maka Kegiatan Ekonomi Wilayah/Kota akan tumbuh-berkembang. Jika Kegiatan Ekonomi tumbuh- berkembang, maka akan tercipta Lapangan Kerja. Keduanya akan menciptakan multiplier effect, artinya akan menumbuhkan kegiatan-kegiatan ekonomi pendukung yang lebih banyak lagi, dan menciptakan lapangan kerja yang lebih banyak lagi.

 

Jika Kegiatan Ekonomi dan Lapangan Kerja terus tumbuh-berkembang, maka diharapkan pendapatan (pajak dan bukan pajak),akan meningkat. sehingga meningkatkan kapasitas keuangan dan budget pemerintah (pusat, daerah). Pendapatan pemerintah meningkat, maka kembali investasi infrastruktur dapat ditingkatkan. Maka Kegiatan Ekonomi Daerah makin meningkat, dan Lapangan Kerja makin tumbuh berkembang juga. demikianlah Siklus Pembangunan Daerah berlanjut.




 Namun situasi eksternal yang terjadi, ternyata ada pandemi Covid-19, yang dari akhir tahun 2019 sampai dengan tahun 2022 ini masih terjadi secara pasang-surut. Sudah sempat surut, tetapi kemudian datang varian Delta, setelah sempat mereda, datang lagi varian Omicron. Maka Siklus yang sifatnya Enforcing (kian menguat) tersebut akhirnya mengalami koreksi, Balancing (kian surut, melemah).

 

Implikasi Kebijakannya, pemerintah nampaknya menempuh dua jalur. Pertama, berupaya mengendalikan pandemi Omicron dengan memperluas dan mempercepat vaksinasi, dan dukungan medis (perawatan, obat) bagi yang telah tertular Covid-19.

Kedua, tetap meningkatkan investasi dengan menghimpun dana pinjaman dalam negeri (menerbitkan surat utang, dsb), pinjaman luar negeri. Penyertaan modal swasta nasional (PKBU/ pola kerjasama badan usaha) dan asing, baik dalam pembangunan prasarana (jalan raya, bandara, pelabuhan, bendungan), maupun dalam kegiatan ekstrasi SDA (pertambangan), dan hilirisasi industri pengolahan hasil tambang, perkebunan, perikanan, dan lainnya. (Risfan Munir)

Wednesday, February 16, 2022

Perbedaan SYSTEM THINKING dengan Linier Thinking

Perbedaan antara SYSTEM THINKING dengan Linier Thinking yang telah digunakan secara umum selama ini. Linier Thinking sifatnya respons cepat, menjawab symptom persoalannya. 

Misalnya: ada hujan, solusinya ya pakai payung. Jalan macet, solusinya yang turunkan polisi lalulintas, atau perlebar jalan, bangun flyover. Keuntungannya, itu merupakan solusi cepat (Gambar kiri).

Persoalannya ialah, kalau ternyata kemacetan tersebut kemudian berulang lagi di tahun-tahun berikutnya, dan itu yang terjadi. Maka perlu dilihat permasalahan ini perlu dilihat lagi secara komprehensif, yaitu dengan SYSTEM THINKING.

Sebagaimana dapat dilihat pada gambar, kalau didalami lebih jauh, ternyata ada lingkar balik (loops). Dalam contoh itu, ternyata faktor Perilaku Pengemudi selain mengakibatkan Kemacetan, dia juga diakibatkan oleh Kemacetan itu. Begitu pula faktor Jumlah Kendaraan Pribadi, dia mengakibatkan tingkat Kemacetan Lalu-lintas, tetapi dalam jangka waktu tertentu, juga menyebabkan sebagian penduduk lebih nyaman kalau memiliki Kendaraan Pribadi (mobil, dan terutama motor).

Adanya loops (lingkar balik) tersebut telah menjadi salah satu ciri prinsip dari SYSTEM THINKING, yang membedakannya dengan Linier Thinking. Solusi/respons cepat, seperti misalnya melebarkan jalan, membangun flyover, itu memang dapat menyelesaikan persoalan sesaat, darurat, tetapi untuk jangka panjang perlu diantisipasi efek atau akibat ikutannya. Memperlebar jalan, membangun flyover, sesaat mengatasi masalah kemacetan. namun untuk jangka menengah dan panjang, kenyamanan jalan juga dapat meningkatkan minat untuk menggunakan kendaraan pribadi. Dalam kasus kemacetan, mungkin perlu diimbangi dengan opsi kebijakan lain seperti: pembatasan mobil pribadi dengan aturan "ganjil-genap", peningkatan kuantitas dan kualitas angkutan umum, pengaturan parkir di pusat keramaian.
Pemahaman akan loops, yang berarti mengantisipasi adanya "boomerang" dari suatu kebijakan/aksi, dapat membuka pikiran untuk mencari opsi-opsi kebijakan penanganan yang lain. Membuat kita menyadari, bahwa setiap kebijakan selalu ada plus-minus nya. Sehingga perlu dipikirkan opsi-opsi alternatif, dengan plus-minus masing-masing. (rmr)

Monday, February 14, 2022

Systems Thinking - Waktu dan Tujuan Penerapan Systems Thinking

Kapan saat Systems Thinking betul-betul dibutuhkan? Systems Thinking biasanya digunakan untuk mencari solusi atas masalah-masalah yang sifatnya:

1)    Masalah yang dianggap penting, strategis (mempengaruhi yang lain),

2)    Persoalan kronis, bukan kejadian sesaat (tapi berulang, menerus),

3)    Persoalan yang familier (banjir, persampahan,kemacetan lalulintas, dst), dan punya sejarah,

4)    Beberapa pihak sudah melakukan berbagai upaya penanganan, tapi selalu tidak memadai, bahkan gagal.

 

Tujuan (dan Langkah) Systems Thinking, antara lain:

1)    Mendapat gambaran lengkap (mapping) mengenai sistem boundary, komponen-komponen, dan lingkungan yang mempengaruhi;

2)    Mengenali akar-akar masalahnya (cause: why? why?) ;

3)    Memahami potensi dampak (if ..- then.., if ..- then..), serta alternatif solusinya.

4)    Menghindari Kesimpulan yang terlalu dini;

5)    Mengenali "titik ungkit/akupuntur" (leverage point) dalam system untuk dapat mengubah dan menyusun kebijakan/intervensi. (rmr)

Sunday, February 13, 2022

Systems Thinking dan ICEBERG Persoalan Wilayah/Kota

Persoalan-persoalan yang dihadapi oleh Wilayah/ Kota/ Desa dapat dibedakan menjadi dua: persoalan sesaat, dan persoalan yang berulang, bahkan menetap dan kronis.

Persoalan jalan macet karena ada tabrakan, ada truk mogok mungkin hanya peristiwa terjadi sesaat.

Tetapi kalau kemacetan itu ternyata terjadi berulang-ulang (tiap hari Senin, pada jalan-jalan tertentu). Berarti kejadian ini ber-Pola. Maka perlu dipelajari Pola (misal diketahui: tiap hari Senin pkl 07-00-09.00; di jalan-jalan tertentu; ada apa disitu: peruntukan sekolah dan perkantoran). Sebabnya dapat diduga: karena tiap Senin pagi ada upacara, di sekolah-sekolah, dan kantor-kantor.




 

Lebih jauh dapat dilihat lagi Struktur faktor-faktor penyebabnya: apakah faktor Land-Use (penumpukan kegiatan), faktor banyaknya mobil pribadi, faktor lebar jalan, dan lainnya.

 

Kalau persoalan tersebut terjadi berulang, bahkan bertahun-tahun, dan penertiban, pelebaran jalan, atau tindakan lain tidak efektif. Maka mungkin Cara Pandang/Berpikir nya yang dikaji, bagaimana kalau fenomena kawasan itu diterima apa adanya, dan lalu-lintas ke kawasan itu tiap Senin pagi dibelokkan ke arah/jalur lain. Atau ada Cara Pandang yang lain, mengubah hari upacara perkantoran menjadi hari Selasa, atau Jumat (sekaligus hari Krida) (?)

 

Systems Thinking biasanya tidak untuk merespons kejadian/peristiwa sesaat (macet karena ada kecelakaan), atau seperti "pemadam kebakaran", tetapi untuk menjawab persoalan yang berulang (akut, bahkan kronis), seperti kemacetan rutin, banjir tiap musim hujan (kekeringan tiap kemarau), kemiskinan (kawasan kumuh) perkotaan, penggundulan perbukitan, dan sejenisnya (rmr)***

Enam Prinsip dari Systems Thinking

Ada Enam Prinsip dari Systems Thinking. Enam prinsip ini menjadi ciri khas yang melekat pada Systems Thinking, yaitu: (1) Inter-connectedness; (2) Synthesis; (3) Emergence; (4) Feedback Loops; (5) Causality; (6) Systems Mapping.



(1) Inter-connectedness (saling-terkait). Sesuai definisi Sistem, semua elemen atau komponennya saling terhubung, saling mempengaruhi. Arus lalu-lintas dipengaruhi oleh sebaran lokasi tiap peruntukan lahan (pola landuse), dan pola landuse dipengaruhi oleh pertumbuhan/perkembangan ekonomi tiap sektor, dipengaruhi jumlah penduduk dan tingkat  daya belinya. Pola landuse juga dipengaruhi kebutuhan akan lahan/lokasi sekolah-sekolah, rumah sakit, puskesmas, dan sarana kehidupan kota lainnya. Semuanya saling terhubung, saling berinteraksi.

(2) Synthesis (Sintesis). Sebagaimana pemahaman sintesis pada umumnya. Satu tambah satu, jadinya bukan dua, tetapi bisa tiga, empat, atau lebih. Kegiatan-kegiatan ekonomi yang berkumpul, beraglomerasi, saling berinteraksi, bekerjasama dapat membentuk pusat pertumbuhan ekonomi. Selanjutnya menjadi magnet yang dapat mengundang kegiatan-kegiatan ekonomi lain, kegiatan pendidikan, kesehatan, rekreasi, dan lainnya.

(3) Emergence (Kemunculan). Sejalan dengan sintesis di atas. Interaksi, kolaborasi antar dua elemen atau lebih, dapat menunculkan entitas atau elemen baru. Perkantoran, perumahan, pertokoan, rekreasi dan elemen penunjang lainnya, dapat melahirkan entitas baru seperti superblok, kota baru (new-town), destinasi wisata, bahkan memunculkan satuan metropolitan. 

(4) Feedback Loops (Umpan balik). Ciri khas sistem yang berikutnya yaitu feedback loop. Output, outcome memberi umpan-balik kepada Input dan Proses. 

(5) Causality (Sebab-Akibat). Ini merupakan sisi lain dari feedback loops (no.4). Relasi antar elemen dan dinamikanya yang saling-terhubung, merupakan manifestasi hubungan sebab-akibat yang bisa merupakan hubungan timbal baik (jika ada telor, maka akan jadi ayam; sebaliknya jika ada ayam, maka akan ada telor).
Jika lingkungan kumuh ditata/dibangun, maka hunian menjadi sehat dan nyaman. Jika hunian menjadi nyaman, banyak kegiatan perbaikan (konstruksi), maka pendatang (migrasi masuk) juga meningkat. Pada gilirannya, maka lingkungan akan kumuh lagi. Itu contoh saling terkaitnya Feedback Loops dengan Causality.

(6) Systems Mapping (Pemetaan Interaksi Antar-Elemen dari Sistem). Prinsip 1 s/d 5 digambarkan dalam peta rangkaian hubungan antar elemen, dan rangkaian hubungan sebabakibat (causal loops diagram) sehingga kita dapat melihat keseluruhan sistem, berikut hubungan kausalitas antar elemen atau unitnya. Peta ini akan membantu melihat keseluruhan masalah, dan memudahkan kita untuk merumuskan kebijakan pengembangan, peningkatan, mengatasi masalah, dan mengantisipasi efek maupun impact nya (Risfan Munir)

Saturday, February 12, 2022

Systems Thinking dalam PERENCANAAN PENGEMBANGAN WILAYAH & KOTA

SYSTEMS ialah sekumpulan komponen-komponen (benda dan/atau konsep) yang saling berinteraksi dan saling mempengaruhi hingga menghasilkan Tujuan (Output) tertentu. SYSTEMS THINKING merupakan pendekatan yang menggunakan cara pandang sistem tersebut, yaitu melihat entitas, organisasi, kota, wilayah sebagai satuan utuh (holistik). Ini merupakan kerangka untuk melihat hubungan antar elemen dalam sistem, untuk melihat pola perubahan, bukan hanya potret sesaat.

 

Tidak ada yang terpisah dalam alam raya, semuanya saling terhubung, dan saling mempengaruhi. Systems thinking merupakan suatu pendekatan yang holistik dalam memahami fenomena. Dalam systems thinking, fokus perhatian/pendekatan bukan elemen-elemen kecil yang saling terpisah, tetapi melihat keseluruhan himpunan besar dari bagian-bagian lebih kecil, serta bagaimana bagian itu saling berinteraksi dan berkaitan.

 

Sytem thinking merupakan bagian dari proses pemahaman tentang bagaimana satu hal memengaruhi hal lain dari (hubungan sebab-akibat) dalam entitas keseluruhannya. Sebagai contoh dalam suatu Ecosystem, yang terdiri dari unsur-unsur udara, air, tumbuhan, hewan, serta mahluk-mahluk yang ada saling berinteraksi, yang satu menyebabkan yang lain, untuk keberlanjutan hidup bersama secara keseluruhan. 

Sebagai sebuah cara pandang (view), Systems Thinking menggunakan diagram (causal loops diagram), untuk memperkaya analisis kita terhadap kesaling-terkaitan antara bagian dari sistem keseluruhan sistem, sehingga dapat memetakan hubungan "sebab-akibat" (causal) antar elemen, langkah tindakan, untuk dapat menciptakan putusan lebih bijak menghadapi berbagai persoalan organisasi, kota, dan wilayah.

 

Pendekatan kesisteman 'systems thinking' sebetulnya bukan hal baru dalam khasanah Urban and Regional Planningia telah digunakan cukup lama, sebagaimana buku-buku seperti "Urban and Regional Planning: a Systems Approach" (McLoughlin, 1969), dan "A Systems View of Planning" (Chadwick, 1971).

 

Pada masa kini, perubahan terjadi pada skala global dan nasional telah mendorong perubahan-perubahan cepat juga pada skala regional dan kota, bahkan hingga perdesaan. Hal ini menciptakan situasi VUCA (volatility, uncertainty, complexity, ambiguity). Situasi serba tidak pasti, yang membuat negara, wilayah-wilayah, kota-kota sulit memprediksi tantangan yang dihadapinya. Untuk itu Systems Thinking sebagai salah satu pendekatan dalam memetakan relasi "sebab-akibat" antar aspek penentu dalam perkembangan wilayah dan kota, diharapkan dapat digunakan untuk lebih memahami dinamika situasi, dan lalu mengambil kebijakan yang outcome dan hasilnya dapat diantisipasi (RMR)***